Select Page

AL HARAM AS SYARIF

Lapangan luas (bagian barat yang panjangnya 491 m, bagian timur yang panjangnya 462 m, bagian utara yang panjangnya 310 m, bagian selatan yang panjangnya 281 m) di mana kini berdiri Masjid Al-Aqsa dan Dome of the Rock, bernama Al Haram As-Syarif. Cadas suci di lapangan ini, yang kini terletak di bawah kubah masjid, di zaman dulu merupakan puncak bukit yang secara populer dinamakan Bukit Moria untuk memperingati korban Abraham (bdk. Kej 22:1-19). Di masa pemerintahan Raja Daud, bukit ini adalah milik seorang Yebus bernama Arauna. Ia memakainya sebagai tempat pengirikan gandum. Bukit itu dibeli oleh Daud dari Arauna, lalu di atasnya didirikannya mezbah bagi Tuhan dan dipersembahkannya kurban bakaran serta kurban perdamaian. Ceritanya dapat dibaca dalam kitab kedua Samuel, bab 24. Sejak itu Daud ingin mendirikan Bait Suci di atas bukit tersebut, tetapi rencana itu berhasil diwujudkan baru oleh Salomo, anaknya pada tahun 950 SM (kadang-kadang disebut tahun lain pula). Bait Suci I itu dihancurkan oleh tentara Babel pada tahun 586, tetapi didirikan kembali oleh Zerubabel pada tahun 516. Bait Suci II tidak seindah yang pertama. Karena itu Raja Herodes yang ingin dicintai oleh bangsa Yahudi dan berbuat apa saja supaya bangsa itu lupa bahwa ia seorang Idumea, pengagum budaya Yunani dan seorang kriminalis, mulai memikirkan pembangunan Bait Suci di Bukit Muria itu. Pekerjaan itu dilakukan oleh puluhan ribu tukang, sedangkan ribuan orang Lewi mempelajari teknik membangun tembok. Lapangan Bukit Muria diperluas di sebelah utara dan dari semua sudut dikelilingi oleh pelataran, kecuali sebelah barat laut di mana berdiri Benteng Antonia. Pelataran timur bernama Pelataran Salomo, yang di sebelah selatan bernama Pelataran Rajawi. Setiap pelataran mencakup 4 deretan tiang setinggi 8 m. Orang-orang kafir boleh berdoa di sebuah lapangan khusus yang dimasuki dengan melewati pelataran luar tadi. Mereka tidak boleh memasuki bagian yang dikhususkan bagi bangsa Yahudi saja. Hal ini diingatkan lewat tulisan dalam bahsa Yunani dan Latin yang ditempatkan pada 13 tiang. Bila mereka memasuki daerah terlarang, mereka dihukum mati. Bangunan utama Bait Suci di sebelah timur mencakup sebuah lapangan yang dikelilingi dengan tembok. Lapangan itu dapat dimasuki lewat 9 gerbang : 4 di sebelah utara, 4 di sebelah selatan dan 1 di sebelah timur. Gerbang yang terakhir itu paling indah dan dikenal sebagai Gerbang Korintus. Gerbang itu kiranya sama dengan yang disebut “Pintu Indah” (bdk. Kis 3:2). Lapangan itu terbagi dua; yang satu dikhususkan bagi kaum wanita Yahudi dan yang lain bagi kaum pria. Bagian barat sekitar mezbah pembakaran hanya boleh dimasuki para imam. Di sebelah barat dari mezbah ada Bait Suci yang sesungguhnya. Pembangunan bagian utama Bait Suci itu berhasil dilakukan oleh Herodes dalam 8 tahun. Tetapi pembangunan bagian-bagian lain berlangsung lama sekali. Menjelang wafatnya Yesus, pekerjaan di daerah Bait Suci belum selesai. Sambil memandang kemegahan segala bangunan itu, Yesus berkata, Apakah kalian melihat semuanya itu ? Ketahuilah, tidak ada satu batupun dari bangunan-bangunan itu akan tinggal tersusun pada tempatnya. Semuanya akan dirobohkan (Mat 24:2). Bait Suci Yahudi itu disebut dalam injil berkali-kali. Di situlah Zakharia mengalami penglihatan Malaikat Tuhan (Luk 1:8-22). Maria mempersembahkan Yesus di Bait Suci itu (Luk 2:22-40). Yesus yang masih remaja bercakap-cakap dengan para ahli kitab di tempat itu (Luk 2:22-40), menyucikan Bait Suci (Yoh 2:13-22) dan di situ mengamati seorang janda yang mempersembahkan seluruh nafkahnya demi kemuliaan Allah (Luk 21:1-4). Nubuat Yesus tentang Bait Suci menjadi kenyataan pada tahun 70. Yerusalem dihancurkan, sedangkan Bait Suci dibakar. Pada tahun 132 Bar-Kokhba memimpin lagi pemberontakan Yahudi terhadap Roma. Pada tahun 135 Kaisar Hadiranus sekali lagi bertindak secara kejam terhadap bangsa Yahudi. Di tempat berdirinya Bait Suci, ditempatkannya patung kuda. Julianus Apostata (361-362) berusaha membangun Bait Suci kembali, tetapi pekerjaan dihentikan karena nyala api yang konon keluar dari dalam tanah. Sejak itu lapangan Bukit Muria terlantar. Umat Kristen menghindari tempat ini sebagai tempat yang pernah dikutuk oleh Yesus. Daerah itu akhirnya menjadi tempat pembuangan sampah, dan begitulah keadaannya sampai datangnya orang-orang Arab ke Yerusalem. Mereka memandang Bukit Muria sebagai tempat yang disucikan oleh kehadiran Nabi Muhammad, sehingga mendirikan di atasnya salah satu masjid terindah di dunia Islam. Masjid sekarang didirikan pada tahun 691 oleh Abdul Malik yang menggantikan sebuah masjid kecil yang berdiri di situ sejak tahun 636. Pada tahun 1099 para pejuang Perang Salib mengubah Kubah Cadas (yang secara kurang tepat disebut Masjid Omar) menjadi sebuah gereja dengan nama Templum Domini (=Gereja Tuhan). Namun pada tahun 1187, sesudah Yerusalem direbut oleh Saladin, salib emas yang ditempatkan di atas kubah masjid disingkirkan, dan sejak itu masjid itu sepenuhnya di tangan umat Islam. Tetapi masjid sekarang mengalami pemugaran berulang kali selama 13 abad.