HomeCategory

Kota Suci Yerusalem

basilica-of-the-holy-sepulchre-2070814_1920
Daerah sekitar Golgota

Setelah dijatuhi hukuman mati, Yesus keluar dengan memikul sendiri salibnya ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak. Di dalam bahasa Ibrani disebut Golgota (Yoh 19:17). Golgota pada waktu itu terletak di luar kota Yerusalem, tetapi tidak jauh dari temboknya dan agak berdekatan dengan sebuah gerbang yang dilalui para pejalan. Dalam surat kepada orang Ibrani dikatakan : Yesus juga mati di luar pintu gerbang kota untuk membersihkan umatnya dari dosa dengan darahNya sendiri (Ibr 13:12). Dalam Injil Yohanes dicatat pula, Di tempat Yesus disalibkan ada sebuah taman. Di dalam taman itu ada sebuah kuburan baru, yang belum pernah dipakai untuk penguburan orang. Karena kuburan itu dekat, dan hari Sabat hampir mulai, mereka menguburkan Yesus di sana (Yoh 19:41-42). Namun dewasa ini, bentuk asli Golgota serta tempat Yesus dimakamkan tidak dapat disaksikan lagi, akibat berbagai gedung yang dibangun di situ selama 20 abad. Dalam Injil, Golgota tidak pernah dinamakan gunung / bukit, tetapi selalu tempat  saja. Nama Golgota bukan hanya nama tempat berdirinya Salib Yesus, melainkan juga nama tanah milik Yusuf dari Arimatea. Secara tradisional Golgota memang disebut bukit. Kapel Kalvari terletak 5 m lebih tinggi dari lantai Basilika Makam Suci sekarang. Di sebelah barat bukit kecil di zaman dulu itu terdapat taman yang terletak di daerah bekas tambang batu. Dalam salah satu dinding batu itu, Yusuf dari Arimatea membuat makam bagi keluarganya.

Bentuk Makam Yesus

Sesuai dengan kebiasaan Yahudi, makam bagi jenazah Yesus terdiri dari dua gua yang disatukan dengan sebuah pintu tengah berukuran kecil. Gua pertama berperan sebagai ruangan untuk menampung sanak saudara yang datang meratapi almarhum. Dalam gua kedua ditaruh jenazah. Pintu masuk makam ditutup dengan sebuah batu bundar yang dapat digulingkan ke samping berkat adanya sebuah parit kecil khusus di bawah batu itu.

Sejarah tempat-tempat suci di Golgota

Bukit Golgota sendiri, tempat Yesus disalibkan, serta makam Yesus, sejak dahulu kala dipandang oleh umat Kristen sebagai tempat-tempat suci. Justru karena itulah 100 tahun sesudah Yesus disalibkan, Kaisar Hadrianus yang bersikap sangat anti Kristen, menyuruh menutupinya dengan bangunan Kapitol. Demikianlah keadaannya hingga awal abad IV. Pada tahun 326, setahun sesudah Konsili Nikea, tempat-tempat suci itu dibuka kembali setelah bangunan-bangunan Roma dirubuhkan. Lalu, pada tahun 335 didirikan sebuah basilika indah yang disebut Basilica Constantina (dari nama Kaisar Konstantinus). Basilika yang pertama itu terdiri dari 3 bagian : [1] Anastasis, yaitu bangunan makam kosong dalam bentuk rotunda, [2] Taman Yusuf dari Arimatea berbentuk pelataran (Kalvari ada di sudut selatannya); [3] Martyrion, yaitu basilika luas untuk liturgi. Berkat laporan-laporan peziarah zaman dulu dan berkat  penggalian, bentuk basilika pertama itu diketahui dengan baik. Boleh disyukuri bahwa pada waktu mendirikan kuil demi penghormatan dewa-dewa Romawi di tempat Kalvari, Kaisar Hadrianus tidak meratakan gunung batu, dimana pada waktu itu masih terdapat banyak kuburan kuno. Ia hanya sedikit meratakan daerah itu, lalu menimbuninya dengan banyak tanah. Dengan demikian selamatlah semua kuburan kuno itu. Bangunan basilika yang didirikan oleh Kaisar Konstantinus mengalami kerusakan berat pada tahun 614, ketika Yerusalem diserang oleh tentara Khosroes II dari Persia. Tidak lama kemudian bangunan itu diperbaiki berkat sumbangan umat Kristen. Dalam abad IX, tepatnya pada tahun 1009, bangunan itu dirusak lagi atas perintah Kalif Al-Hakim. Rekonstruksinya selesai pada tahun 1048, tetapi bentuknya tidak pernah seperti dulu. Para pejuang Perang Salib memasuki kota Yerusalem pada tanggal 15 Juli 1099. Mereka tidak senang dengan bentuk basilika, sehingga mulai mengubahnya. Mereka menyelesaikan pekerjaan itu pada tahun 1149. Basilika Makam Suci luput dari banyak kerusakan berkat usaha giat para biarawan OFM yang dua kali mengadakan renovasi-renovasi besar-besaran, tepatnya pada tahun 1555 dan 1719. Pada tahun 1808, bagian Basilika Makam Suci yang diurus oleh Gereja Ortodoks Yunani, rusak berat karena kebakaran. Bagian itu dibangun kembali, tetapi banyak unsur (kapel, kuburan, dekorasi, tulisan-tulisan Latin) yang berhubungan dengan Gereja Katolik, disingkirkan sehingga hasil renovasinya sangat mengecewakan. Gempa bumi pada tahun 1927 sangat memperlemah konstruksi lama, sehingga seluruh bangunan terpaksa diperkuat secara darurat dengan besi. Usaha renovasi berlangsung sampai sekarang.

Status tempat-tempat suci di Golgota

Sejak dahulu kompleks suci di Golgota diurus oleh beberapa denominasi Kristen. Namun satu pun dari mereka sejak dulu tidak pernah mengurus hak miliknya, sehingga sampai sekarang berlaku ketetapan Sultan dari tahun 1757. Dalam ketetapan itu ditegaskan bahwa tidak boleh diadakan perubahan apapun dalam hak pemilikan maupun dalam pelaksanaan ibadah. Pada masa kini Basilika Makam Suci diurus oleh Gereja Katolik (OFM), Gereja Ortodoks Yunani dan Gereja Armenia. Ketiga denominasi ini memiliki kediamannya sendiri serta kapel-kapel sendiri dan sekaligus menjadi pemilik bersama bagian-bagian utama basilika, di mana secara bergilir dan pada jam-jam tertentu (siang dan malam) diadakan ibadah. Wakil-wakil Gereja Yakobit dari Siria dan Gereja Etiopia boleh mengadakan ibadahnya pada hari-hari raya saja. Gereja Kopt memiliki sejumlah ruangan dan berhak mengadakan ibadah dalam kapelnya sendiri di belakang kapel Makam Suci pada hari-hari tertentu saja. Hak masing-masing denominasi berkaitan dengan pemakaian lampu, benda-benda gerejawi, lukisan dan kaki dian, khususnya dengan reparasinya. Status quo ini bertahun-tahun lamanya melumpuhkan segala usaha yang bertujuan merenovasikan obyek-obyek suci itu secara menyeluruh.

Halaman depan Basilika

Halaman Basilika Makam Suci panjangnya 25 m dan lebarnya 17 m. Di sebelah barat / kiri halaman itu ada 3 kapel, yaitu : Kapel St. Yakobus (untuk ritus Bizantium Arab), Kapel St. Yohanes dan Kapel 40 Martir Suci. Di sebelah timur / kanan halaman ada : Biara Ortodoks Yunani St. Abraham, Kapel St. Yohanes untuk umat Armenia dan Kapel St. Mikhael untuk umat Kopt. Di sebelah barat menjulang menara lonceng yang didirikan pada tahun 1160-1180. Di sebelah kiri ada pula 8 anak tangga yang membawa peziarah ke kapel Bunda Maria Berdukacita (milik OFM). Hak menjaga pintu masuk halaman sejak tahun 1246 ada di tangan 2 keluarga Islam; yang satu menyimpan kuncinya, sedangkan yang lain berhak membuka pintu.

Batu pengurapan jenazah Yesus

Langsung setelah masuk basilika, peziarah berhadapan dengan sebuah batu berwarna merah muda (panjangnya 2.70 m, lebarnya 1.30 m, tingginya 0.30 m) yang diletakkan hampir rata dengan lantai. Batu itu mengenang peristiwa pengurapan jenazah Yesus yang dilakukan oleh Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus terhadap jenazah Yesus. Sesuai dengan adat Yahudi, mereka mengurapinya dengan wangi-wangian dan minyak, lalu membungkusnya dengan kain kafan putih (bdk. Yoh 19:38-40). Kini batu pengurapan itu menjadi milik bersama Gereja Katolik, Ortodoks Yunani, Armenia dan Kopt. Masing-masing denominasi di sini memiliki 8 lampu dan kaki dian yang berdiri di sekeliling batu tersebut. Kaki dian bertuliskan Venezia 1878 dimiliki oleh Gereja Katolik. Dalam Injil tercatat bahwa upacara penurunan, pengurapan dan pemakaman jenazah Yesus disaksikan oleh beberapa wanita saleh. Tempat mereka berdiri, ditandai dengan sebuah batu bundar yang terletak 12 m dari batu pengurapan tadi. Batu ini milik Gereja Armenia. Berdekatan dengan batu bundar itu ada tangga yang membawa peziarah ke lantai atas; di situ ada kapel dan sebuah ruangan tinggal milik Gereja Armenia pula.

Anastasis ( Kebangkitan )

Setelah melewati batu bundar tadi, peziarah belok kanan, melewati dua tiang besar, lalu memasuki bagian yang dinamakan Anastasis. Di bagian pusatnya terletak Kapel Makam Suci yang sekaligus merupakan Stasi XIV Jalan Salib (Yesus dimakamkan). Kubah di atasnya, yang berkonstruksi baja, berasal dari tahun 1868. Kapel ini panjangnya 8.30 m. Lebar dan tingginya sama, yaitu 5.90 m. Di dalam kapel terdapat banyak lampu perak. Pada bagian masuknya tergantung tiga lukisan yang menggambarkan kebangkitan Yesus. Yang pertama, paling atas, adalah milik Gereja Katolik, yang kedua, dimiliki oleh Gereja Ortodoks, dan yang ketiga – oleh Gereja Armenia. Setelah masuk ke dalam, peziarah berada di Kapel Malaikat (3.40m x 3.90 m). Sebab  pada hari kebangkitan, malaikat Tuhan sambil duduk di atas batu yang sudah terguling, menyampaikan kepada para wanita berita tentang Yesus yang sudah bangkit. Setelah masuk kdalam lagi, peziarah melewati pintu sempit (tingginya 1.33 m) yang mengantarkan ke dalam Kapel Makam Suci yang sebenarnya. Ukurannya : 2.07 m x 1.93 m. Bangku marmer di sebelah kanan pangjangnya 2.02 m, 93 cm lebar dan 66 cm tinggi. Inilah tempat jenazah Yesus diletakkan. Batu cadas yang asli kini ditutup dengan marmer. Pada altar marmer kecil di tengah gang, liturgi dirayakan pada pukul 13.00 oleh wakil Gereja Ortodoks. Oleh Gereja Armenia, liturgi suci dirayakan pada pukul 14.00. Pada pukul 16.00-17.00 misa meriah dirayakan oleh wakil Gereja Katolik (OFM). Ketiga denominasi ini menjaga Kapel Makam Suci. Masing-masing memiliki lukisan, lampu (jumlahnya : 43) dan kaki dian sendiri-sendiri. Lukisan di sebelah kiri adalah milik gereja Katolik, demikan pun kaki dian bertuliskan Venezia 1877, sedangkan lukisan tengah adalah milik Gereja Ortodoks, dan lukisan di selbelah kanan milik Gereja Armenia. Di belakang Kapel Makam Suci ada kapel umat Kopt. Mereka memilikinya sejak tahun 1537. Sambil berjalan ke arah barat laut, peziarah memasuki sebuah ruangan gelap, lalu kapel milik umat Yakobit-Siria. Tempat masuk yang rendah dan sempit mengarah ke dalam ruangan makam yang secara populer disebut Kuburan Yusuf dari Arimatea (inilah satu-satunya ruangan di basilika yang dimilik oleh umat Etiopia). Kuburan Yahudi ini merupakan bukti nyata tentang keaslian Makam Suci Yesus serta bukti bahwa Golgota memang terletak di luar tembok kota Yerusalem. Sambil mengarah ke utara dan setelah melewati empat tiang, peziarah sampai ke ruangan yang dulu dipakai sebagai Kapel Bunda Maria. Adapun di situ tempat yang bernama Kolam / Bak St. Helena.

Kapel St. Maria Magdalena

Di sekitar Makam Suci dulu terletak Taman Yusuf dari Arimatea. Di situlah, pagi-pagi pada hari kebangkitan Yesus, berjalan Maria Magdalena sambil menangis, karena melihat makam Tuhan sudah terbuka dan kosong. Saat itu ia mendengar suara, Ibu, mengapa menangis ? Ia menoleh ke belakang dan melihat seorang yang berdiri tidak jauh daripadanya. Karena menyangka bahwa orang itu adalah penunggu taman, ia berkata kepadanya, Pak, kalau Bapak yang memindahkan dia dari sini, tolong katakan kepada saya di mana Bapak menaruh dia, supaya saya dapat mengambilnya. Seketika itu juga Yesus menyatakan diriNya dan memanggilnya dengan namanya, Maria ! Maria menjawab, Rabuni !, artinya Guru, lalu dengan penuh sukacita berlari untuk sujud di dekat kaki Yesus (bdk. Yoh 20:11-18). Peristiwa ini digambarkan oleh pelukis Kuba Del Rio pada tahun 1855 di Kaple St. Maria Magdalena yang ada di sebelah timur laut basilika.

Kapel Penampakan Yesus kepada Bunda Maria

Dari kapel St. Maria Magdalena, dengan melewati dua tangga, peziarah dapat memasuki kapel milik OFM yang mengenang penampakan Yesus sesudah kebangkitannya kepada Bunda Maria. Injil sama sekali tidak menceritakan penampakan ini, tetapi tradisi meyakininya sejak dahulu. Dalam altar utama di kapel ini tersimpan Sakramen Mahakudus, dan para biarawan OFM siang malam mengadakan ibadah di tempat ini. Pada altar samping tampak sebuah tiang patah (tingginya 75 cm) yang berabad-abad lamanya dihormati sebagai Tiang Penyesahan Yesus. Di belakang kapel ini terletak biara kecil para biarawan OFM yang bertugas di basilika. Setelah keluar dari kapel Penampakan, dengan mengarah ke timur, peziarah melewati 7 lengkungan yang dinamakan Lengkungan-lengkungan Perawan Suci. Di bagian ini dapat dilihat sejumlah tiang dan lengkungan kuno sekali. Di ujungnya terdapat Penjara Kristus, sebab disitulah, di dalam kurungan, Yesus konon menunggu saat eksekusi. Dengan melanjutkan perjalanan, peziarah sampai ke Kapel St. Longinus, serdadu Romawi yang membuka lambung Yesus, sehingga keluarlah darah dan air (bdk. Yoh 19:34). Tidak jauh dari situ ada Kapel Pembagian Pakaian milik Gereja Armenia. Para serdadu Roma membuang undi untuk menentukan siapa dari mereka berhak atas pakaian Yesus (bdk. Yoh 19:23-24).

Kapel St. Helena

Setelah melewati Kapel Pembagian Pakaian, lewat tangga, peziarah turun ke Kapel Salib Suci yang bernama Kapel St. Helena pula. Kapel ini milik Gereja Armenia. Altar tengah dipersembahkan kepada St. Helena, ibunda Kaisar Konstantin, yang pada abad IV giat mencari tempat-tempat yang berhubungan dengan sengsara Yesus serta menemukan salibNya. Altar di sebelah kiri dipersembahkan kepada St. Dismas, penyamun yang baik, yang dari mulut Yesus sendiri mendengar janji-Nya, Percayalah, hari ini engkau akan bersama aku di Firdaus (Yoh 23:43).

Kapel Penemuan Salib

Kapel ini dapat dicapai dengan menuruni tangga di sebelah kanan Kapel St. Helena. Di sebuah tempat penampungan air yang sudah tidak dipakai, pada awal abad IV ditemukan salib-salib dari zaman Yesus dihukum mati. Ratu Helena dan uskup Yerusalem Makarios mengenali salib Yesus berkat penyembuhan ajaib seorang wanita yang sedang menghadapi ajalnya dan diletakkan di atas salib asli Yesus. Kapel ini adalah milik Gereja Katolik. Di atas altar ada patung St. Helena. Tempat ditemukannya salib Yesus ada di sebelah kanan altar itu.

Kapel Penghinaan

Setelah kembali dari Kapel Penemuan Salib, di sebelah kirinya peziarah dapat mampir ke Kapel Penghinaan milik Gereja Ortodoks. Kapel ini mengingatkan berbagai penghinaan yang dilontarkan oleh para imam, ahli kitab dan para tua-tua terhadap Yesus yang sedang tergantung di Salib. Inilah kapel terakhir di lingkungan Basilika Makam Suci.

Kalvari / Golgota

Tempat ini terletak 5 m di atas lantai basilika. Ukurannya 11.45 m x 9.5 m. Dua tiang besar membagikan tempat ini atas dua ruangan mirip kapel. Di dalamnya terdapat  Stasi X (Pakaian Yesus ditanggalkan) dan Stasi XI Jalan Salib (Yesus dipaku pada kayu salib), sesuai dengan lukisan-lukisan pada altarnya. Tembok tempat ini dibuat dari marmer, sedangkan langit-langitnya dihiasi dengan mosaik indah yang menggambarkan penyaliban Yesus, wanita-wanita saleh bersama St. Yohanes yang memandang Yesus di salib. Ada pula mosaik yang menggambarkan pengorbanan Ishak yang  melambangkan Kristus. Altar berasal dari tahun 1588. Pada 6 papan lukisan digambarkan berbagai adegan Sengsara Yesus. Bagian kiri tempat ini adalah milik Gereja Ortodoks. Letaknya tepat di atas cadas, di mana berdiri salib Yesus. Di bawah altar ada sebuah pelat perak dengan lubang di tengahnya yang menunjukkan tempat salib Yesus tertancap. Di sebelah-menyebelah altar terdapat dua pelat bundar dari marmer yang menunjukkan tempat berdirinya salib kedua penyamun yang disalibkan bersama Yesus (bdk. Mat 27:38; Mrk 15:27; Luk 23:32-33; Yoh 19:18). Di samping altar ditunjukkan pula celah cadas yang terbentuk pada saat kematian Yesus, setelah bumi bergetar dan gunung-gunung batu terbelah (Mat 27:51). Di depan altar terdapat Stasi XII Jalan Salib (Yesus wafat di salib), sedangkan Stasi XIII (Jenazah Yesus diturunkan) ialah sebuah altar kecil yang terletak antara kedua kapel ini; altar ini dipersembahkan kepada Bunda Maria Berdukacita dan disebut pula Stabat Mater. Altar ini adalah milik Gereja Katolik; para biarawan OFM setiap hari mempersembahkan misa di sini. Pada dasar altar ini terdapat sebuah teralis artistik; padanya digambarkan semua alat Sengsara Yesus serta kata-kata yang diucapkan oleh Yesus di salib.

Kapel Adam

Menurut legenda abad I, Adam, manusia pertama, dikuburkan di Kalvari. Ketika Yesus wafat, darahNya mengaliri tengkorak Adam, sambil meniadakan noda dosa. Legenda ini menjadi alasan mengapa tengkorak manusia dilukiskan pada gambar penyaliban Yesus. Tengkorak itu melambangkan seluruh umat manusia. Di balik altar yang dibuat di Kalvari untuk menghormati Melkisedek, terdapat Kapel Adam.

Bagian sentral Basilika Makam Suci

Bagian ini dulu dipakai oleh para rohaniwan-pemelihara Makam Suci. Dari semua sudut bagian ini kini dikelilingi oleh tembok sehingga terpisah dari sisa bangunan. Bagian ini menjadi milik Gereja Ortodoks; mereka menyesuaikannya dengan tuntutan-tuntutan liturginya, sehingga sangat terhias, dan kontras sekali dengan kesederhanaan keseluruhan bangunan.

pexels-tranthangnhat-17690078
Daerah Bait Suci Yahudi dulu

Lapangan luas (bagian barat yang panjangnya 491 m, bagian timur yang panjangnya 462 m, bagian utara yang panjangnya 310 m, bagian selatan yang panjangnya 281 m) di mana kini berdiri Masjid Al-Aqsa dan Dome of the Rock, bernama Al Haram As-Syarif. Cadas suci di lapangan ini, yang kini terletak di bawah kubah masjid, di zaman dulu merupakan puncak bukit yang secara populer dinamakan Bukit Moria untuk memperingati korban Abraham (bdk. Kej 22:1-19). Di masa pemerintahan Raja Daud, bukit ini adalah milik seorang Yebus bernama Arauna. Ia memakainya sebagai tempat pengirikan gandum. Bukit itu dibeli oleh Daud dari Arauna, lalu di atasnya didirikannya mezbah bagi Tuhan dan dipersembahkannya kurban bakaran serta kurban perdamaian. Ceritanya dapat dibaca dalam kitab kedua Samuel, bab 24. Sejak itu Daud ingin mendirikan Bait Suci di atas bukit tersebut, tetapi rencana itu berhasil diwujudkan baru oleh Salomo, anaknya pada tahun 950 SM (kadang-kadang disebut tahun lain pula). Bait Suci I itu dihancurkan oleh tentara Babel pada tahun 586, tetapi didirikan kembali oleh Zerubabel pada tahun 516. Bait Suci II tidak seindah yang pertama. Karena itu Raja Herodes yang ingin dicintai oleh bangsa Yahudi dan berbuat apa saja supaya bangsa itu lupa bahwa ia seorang Idumea, pengagum budaya Yunani dan seorang kriminalis, mulai memikirkan pembangunan Bait Suci di Bukit Muria itu. Pekerjaan itu dilakukan oleh puluhan ribu tukang, sedangkan ribuan orang Lewi mempelajari teknik membangun tembok. Lapangan Bukit Muria diperluas di sebelah utara dan dari semua sudut dikelilingi oleh pelataran, kecuali sebelah barat laut di mana berdiri Benteng Antonia. Pelataran timur bernama Pelataran Salomo, yang di sebelah selatan bernama Pelataran Rajawi. Setiap pelataran mencakup 4 deretan tiang setinggi 8 m. Orang-orang kafir boleh berdoa di sebuah lapangan khusus yang dimasuki dengan melewati pelataran luar tadi. Mereka tidak boleh memasuki bagian yang dikhususkan bagi bangsa Yahudi saja. Hal ini diingatkan lewat tulisan dalam bahsa Yunani dan Latin yang ditempatkan pada 13 tiang. Bila mereka memasuki daerah terlarang, mereka dihukum mati. Bangunan utama Bait Suci di sebelah timur mencakup sebuah lapangan yang dikelilingi dengan tembok. Lapangan itu dapat dimasuki lewat 9 gerbang : 4 di sebelah utara, 4 di sebelah selatan dan 1 di sebelah timur. Gerbang yang terakhir itu paling indah dan dikenal sebagai Gerbang Korintus. Gerbang itu kiranya sama dengan yang disebut “Pintu Indah” (bdk. Kis 3:2). Lapangan itu terbagi dua; yang satu dikhususkan bagi kaum wanita Yahudi dan yang lain bagi kaum pria. Bagian barat sekitar mezbah pembakaran hanya boleh dimasuki para imam. Di sebelah barat dari mezbah ada Bait Suci yang sesungguhnya. Pembangunan bagian utama Bait Suci itu berhasil dilakukan oleh Herodes dalam 8 tahun. Tetapi pembangunan bagian-bagian lain berlangsung lama sekali. Menjelang wafatnya Yesus, pekerjaan di daerah Bait Suci belum selesai. Sambil memandang kemegahan segala bangunan itu, Yesus berkata, Apakah kalian melihat semuanya itu ? Ketahuilah, tidak ada satu batupun dari bangunan-bangunan itu akan tinggal tersusun pada tempatnya. Semuanya akan dirobohkan (Mat 24:2). Bait Suci Yahudi itu disebut dalam injil berkali-kali. Di situlah Zakharia mengalami penglihatan Malaikat Tuhan (Luk 1:8-22). Maria mempersembahkan Yesus di Bait Suci itu (Luk 2:22-40). Yesus yang masih remaja bercakap-cakap dengan para ahli kitab di tempat itu (Luk 2:22-40), menyucikan Bait Suci (Yoh 2:13-22) dan di situ mengamati seorang janda yang mempersembahkan seluruh nafkahnya demi kemuliaan Allah (Luk 21:1-4). Nubuat Yesus tentang Bait Suci menjadi kenyataan pada tahun 70. Yerusalem dihancurkan, sedangkan Bait Suci dibakar. Pada tahun 132 Bar-Kokhba memimpin lagi pemberontakan Yahudi terhadap Roma. Pada tahun 135 Kaisar Hadiranus sekali lagi bertindak secara kejam terhadap bangsa Yahudi. Di tempat berdirinya Bait Suci, ditempatkannya patung kuda. Julianus Apostata (361-362) berusaha membangun Bait Suci kembali, tetapi pekerjaan dihentikan karena nyala api yang konon keluar dari dalam tanah. Sejak itu lapangan Bukit Muria terlantar. Umat Kristen menghindari tempat ini sebagai tempat yang pernah dikutuk oleh Yesus. Daerah itu akhirnya menjadi tempat pembuangan sampah, dan begitulah keadaannya sampai datangnya orang-orang Arab ke Yerusalem. Mereka memandang Bukit Muria sebagai tempat yang disucikan oleh kehadiran Nabi Muhammad, sehingga mendirikan di atasnya salah satu masjid terindah di dunia Islam. Masjid sekarang didirikan pada tahun 691 oleh Abdul Malik yang menggantikan sebuah masjid kecil yang berdiri di situ sejak tahun 636. Pada tahun 1099 para pejuang Perang Salib mengubah Kubah Cadas (yang secara kurang tepat disebut Masjid Omar) menjadi sebuah gereja dengan nama Templum Domini (=Gereja Tuhan). Namun pada tahun 1187, sesudah Yerusalem direbut oleh Saladin, salib emas yang ditempatkan di atas kubah masjid disingkirkan, dan sejak itu masjid itu sepenuhnya di tangan umat Islam. Tetapi masjid sekarang mengalami pemugaran berulang kali selama 13 abad.

Masjid Qubbet As-Sakhra (Dome of the Rock)

Masjid Cadas / Batu Karang dianggap oleh banyak ahli sebagai salah satu bangunan terindah di muka bumi. Kubahnya berlapiskan emas. Arsitekturnya meniru basilika-basilika Kristen masa Bizantium. Di dalam masjid ini terhias dengan mosaik-mosaik tembok, kaca-kaca warna dan permadani-permadani Persia yang indah. Di dalam masjid ini ada cadas yang dianggap suci. Panjangnya 13 m, lebarnya 10 m dan tingginya hampir 1.5 m. Menurut tradisi Islam, Nabi Muhammad datang ke tampat ini dari Mekka dengan mengendarai Buraq untuk berdoa di depan cadas itu sebelum berangkat ke surga (miraj). Ketika ia mulai naik, cadas itu pun terangkat di bawah telapak kakinya, tetapi dihentikan oleh Malaikat Gabriel. Bekas tangan malaikat itu terukir pada cadas suci ini. Menurut kepercayaan lain, pada akhir zaman, dari cadas ini akan terdengar bunyi terompet, tanda dimulainya penghakiman terakhir. Allah akan bertakhta di atas cadas ini sebagai Hakim. Di bawah cadas terdapat sebuah gua yang konon dulu dipakai oleh Arauna sebagai gudang peralatan. Salah satu sudut cadas ini menyerupai lidah. Konon bagian cadas itu pernah bersuara kepada Omar sambil menyalaminya. Di dalam gua diperlihatkan tempat-tempat di mana pernah berdoa Abraham, Daud, Salomo, Elia dan Muhammad.

Masjid Al-Aqsa

Di bagian selatan lapangan suci ini berdiri Masjid Al-Aqsa, artinya “Masjid Terjauh” (dari Mekka). Masjid ini panjangnya 90 m dan lebarnya 60 m, dan menyerupai basilika Kristen. Inilah sebabnya masjid ini cukup lama dipandang sebagai sebuah gereja Kristen untuk menghormati Bunda Maria yang didirikan oleh Kaisar Yustianus. Namun kini diketahui dengan pasti bahwa masjid ini bukan bekas bangunan Kristen. Masjid ini didirikan pada tahun 709-715 oleh putra Al Malik yang membangun Dome of the Rock. Salah satu cirinya yang khas ialah tiang-tiangnya serta permadani di seluruh lantainya. Pada masa Perang Salib, masjid ini dipakai sebagai tempat kediaman raja-raja Yerusalem, lalu menjadi biara sebuah ordo yang mengurus Templum Domini, yaitu Dome of the Rock. Sesudah Saladin mengalahkan tentara Kristen, masjid ini berfungsi lagi sebagai tempat ibadah Islam. Masjid ini mengalami kerusakan berat pada tahun 1927 dan 1937 akibat gempa bumi. Renovasinya selesai dikerjakan pada tahun 1943. Pada tahun 1966 berhasil diadakan renovasi kubah. Pada tahun 1969 sebagian masjid ini rusak lagi akibat kebakaran yang antara lain menelan “Mimbar Saladin”. Dekorasi masjid ini serta jendelanya ditiru berdasarkan masjid As-Sakhra.

pexels-kursatkurt-14082611
pexels-haleyve-2087387

Kota Suci

“Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku; biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!”

Beginilah doa pemazmur sekian abad yang lalu (Mzm 137:5-6 TB). Memang dapat dipahami bahwa Yerusalem terukir dalam hati setiap orang Yahudi secara istimewa. Sebab konon di Bukit Moria, di kota inilah, Abraham mengorbankan Ishak, anaknya. Sebab kota inilah ditetapkan oleh Raja Daud sebagai ibukota negaranya. Sebab di kota inilah Raja Salomo membangun Bait Suci, kediaman Allah. Kota Yerusalem amat bernilai pula bagi umat Kristen. Sebab disinilah Yesus pernah mengajar, disengsarakan, wafat di salib dan bangkit, sambil menggenapkan karya penebussan dunia. Untuk umat Islam, yerusalem adalah tempat naiknya (miraj) Nabi Muhammad ke surga. Inilah kota tersuci ketiga bagi umat Islam sesudah Mekkah dan Medinah. Selain itu Yerusalem menjadi tempat inspirasi bagi banyak nabi, seniman, penyair dan ilmuwan. Kini Yerusalem menjadi pusat budaya, tempat banyak museum, galeri seni, teater dan universitas. Yerusalem masa kini adalah kota yang amat moderen. Namanya yang indah searti dengan Kota Damai.

Sejarah Singkat Yerusalem

Demi orientasi pembaca, di bawah ini disajikan sejumlah data historis sehubungan dengan kota Yerusalem. Para penduduk pertama kota ini (dulu namanya Ur-salem), yaitu kaum Yebus, tinggal di bukit di sebelah selatan Bait Suci; tempat itu bernama Ofel. Pada tahun 1000 SM, kota mereka ditaklukkan oleh Raja Daud. Di Bukit Muria yang dibelinya dari kaum Yebus, Daud mendirikan sebuah mezbah bagi Allah, lalu memindahkan Tabut Perjanjian ke sana. Salomo, anak Daud, juga memilih Bukit Moria sebagai tempat Bait Suci I yang didirikannya pada tahun 950 SM. Sesudah mangkatnya Salomo, kerajaan kesatuan yang berhasil didirikan oleh Daud, pecah menjadi Kerajaan Israel (di sebelah utara) dan Kerajaan Yehuda (di sebelah selatan). Pada tahun 722 SM, Kerajaan Israel yang di utara itu segera ditaklukkan oleh Asyur dan dijadikan salah satu propinsinya. Kerajaan Yehuda bertahan sampai tahun 587, ketika Nebukadnezar, raja Babel, merebut Yerusalem, merampas kota itu, menghancurkan Bait Suci serta membawa ribuan orang Yahudi ke pembuangan. Pembuangan itu berlangsung selama 50 tahun saja. Koresy, raja Persia, yang mengalahkan Babel pada tahun 538 mengizinkan  orang-orang Yahudi kembali ke negerinya untuk membangun kembali Bait Suci serta tembok-tembok Yerusalem. Para buangan itu dipimpin oleh Zerubabel, Nehemia dan Ezra. Mereka berhasil membangun kembali Baitu Suci pada tahun 515, sedangkan tembok kota Yerusalem – pada tahun 446 SM. Para penguasa Persia yang menjajah mereka pada waktu itu ternyata cukup toleran. Tetapi situasi ini berubah setelah bangsa Yahudi mulai dijajah oleh bangsa Yunani akibat kemenangan-kemenangan cemerlang Aleksander Agung dan tentaranya (tahun 333 SM). Sayangnya, beberapa penguasa Yunani itu memaksakan budayanya dan berusaha sekuat tenaga supaya agama Yahudi hilang dari permukaan bumi. Pemberontakan melawan mereka timbul setelah Raja Antiokhus Epifanes IV menyatakan dirinya dewa dan menyuruh orang-orang Yahudi menyembahnya. Pemberontakan yang dikenal sebagai Revolusi Para Makabe itu menghasilkan semacam independensi bangsa Yahudi. Para penguasa Yunani diusir dari Yerusalem pada tahun 164 SM, sedangkan kuasa mereka beralih ke tangan tokoh-tokoh Yahudi dari dinasti Hasmonides. Tetapi kemerdekaan bangsa Yahudi berakhir setelah Jenderal Pompeius mengepung dan menaklukkan Yerusalem pada tahun 63 SM. Raja Herodes Agung I yang pandai menjilat penguasa baru dari Roma itu, diangkat menjadi raja Yahudi pada tahun 37SM. Pada akhir pemerintahannya lahirlah Yesus. Walaupun dibenci oleh rakyatnya, Herodes sangat berjasa sebagai bapak pembangunan. Salah satu karyanya yang megah ialah perluasan Bait Suci. Pada tahun 70, akibat berbagai pemberontakan Yahudi, tentara Roma menghancurkan Yerusalem, termasuk Bait Suci. Pemberontakan selanjutnya dipimpin pada tahun 132-135 oleh Bar-Kokhba yang gagah berani. Namun akibat pemberontakan itu Kaisar Hadrianus membumiratakan Yerusalem dan melarang orang-orang Yahudi tinggal di kota itu untuk selama-lamanya. Di atas reruntuhan kota Yerusalem didirikan kota baru yang sepenuhnya kafir dan diberi nama Aelia Capitolina. Sejak itu Tanah Suci diberi nama Palestina (dari kata Filistin yang sulit dilafalkan oleh orang Roma). Pada awal abad IV Kaisar Konstantinus menjadi Kristen. Sejak itu Tanah Suci, khususnya Yerusalem mulai diperhatikan secara khusus. Mula-mula oleh Helena, ibunda sang Kaisar. Ia mengunjungi Tanah Suci pada tahun 326 dan mendukung pembangunan Basilika Makam Suci dan Basilika Bukit Zaitun. Pada tahun 614, Palestina, yang sejak abad IV berada di bawah kuasa Bizantium, diserang oleh tentara Persia di bawah pimpinan Khosroes II. Tentara itu menghancurkan hampir semua tempat suci Kristen dan membunuh banyak orang Kristen. Keadaan Yerusalem pulih kembali setelah Bizantium, pada tahun 629, merebut kembali Tanah Suci dari tangan Persia. Namun begitu mulai dibangun kembali, Tanah Suci diserang lagi, kali ini oleh Kalif Omar yang berhasil memasuki Yerusalem pada tahun 637. Para penduduk kota Yerusalem menyerah sesuai dengan syarat-syarat yang disepakati sebelumnya. Omar adalah penguasa yang toleran dan para penggantinya berusaha mempertahankan sikap itu, sehingga Tanah Suci mulai lagi diziarahi umat Kristen dari berbagai penjuru dunia. Tempat-tempat Suci yang hancur atau rusak, dibangun kembali. Tetapi Tanah Suci semakin banyak dihuni orang-orang Arab beragama Islam yang lama kelamaan semakin memusuhi umat Kristen. Pada waktu pemerintahan Abdul Al Malik (685-705), di Yerusalem didirikan Masjid Qubbet As-Sakhra (=Kubah Cadas) dan Masjid Al-Aksa. Pada waktu pemerintahan Al-Hakim (996-1021), umat Kristen di Yerusalem mulai dianiaya. Basilika Makam Suci dihancurkan. Aniaya yang amat mengerikan terhadap umat Kristen berakhir baru pada tahun 1021 bersamaan dengan meninggalnya Al-Hakim. Pada tahun 1070, Yerusalem dikuasai oleh dinasti Seljuk dari Turki. Pemberontakan para penduduk Yerusalem terhadap penguasa Turki berakhir dengan pembantaian. Pada tahun 1099 datanglah tentara Perang Salib dari Eropa untuk membebaskan tempat-tempat suci Kristen dari tangan Islam. Mereka merebut Yerusalem, membunuh para penduduk beragama non-Kristen, mengubah semua Masjid menjadi gereja, dan langsung mulai membangun kembali Basilika Makam Suci. Sejak itu Yerusalem menjadi kota bebagai gereja dan biara hingga tahun 1187, ketika Saladin, panglima tentara Islam, merebut Yerusalem lagi. Ia langsung memerintahkan diadakannya renovasi Masjid Al-Aksa dan membersihkan kota Yerusalem dari unsur-unsur Kristen. Dalam tahun 1229-1244 Yerusalem menjadi ibukota Kerajaan Yerusalem. Sejak tahun 1250 Yerusalem dikuasai oleh dinasti Mameluk (Arab). Mulai dari tahun 1516, Yerusalem berada di bawah kuasa dinasti Ottoman yang beragama Islam. Wangsa itu sesungguhnya meliputi suku-suku Turki nomadik, dan pendirinya ialah Osman. Dalam tahap awalnya, dinasti ini mendukung pembangunan Yerusalem, tetapi di kemudian hari para penguasanya sama sekali tidak peduli akan Palestina. Keadaan Yerusalem semakin memprihatinkan. Pada pertengahan abad XIX jumlah penduduknya mencapai 11 ribu orang saja. Tetapi pada abad itu juga pengaruh Kristen di Yerusalem semakin terasa. Sejak tahun 1881 cukup banyak perantau Yahudi mulai kembali ke Tanah Suci. Sehabis Perang Dunia II, Yerusalem menjadi ibukota Protektorat Palestina di bawah kuasa Inggris. Pada tahun 1947, PBB memerintahkan Yerusalem dijadikan zona Internasional, tetapi keputusan itu tidak pernah diwujudkan. Pada tahun 1948-1949, selama perang Israel-Arab, Yerusalem hancur, dan sesudahnya dijadikan dua bagian : Israel dan Yordania. Yordania mendapat Kota Lama dan hampir semua tempat suci, termasuk Qubbet As-Sakhra, Masjid Al Aksa serta Basilika Makam Suci. Di tengah kota Yerusalem didirikan tembok pemisah yang memisahkan para penduduk kota itu selama 19 tahun. Pada tanggal 5 Juni 1967, sesudah artileri Yordania menembaki bagian Yerusalem yang dihuni oleh orang-orang Yahudi, pecahlah perang baru. Dalam 48 jam orang-orang Yahudi mencaplok Kota Lama Yerusalem, menghancurkan tembok pemisah, lalu mulai membangun semua obyek yang sempat dihancurkan oleh Yordania di wilayah Kota Lama. Sejak itu orang-orang Yahudi boleh kembali ke Tembok Ratapan sesudah 2 ribu tahun menanti-nanti saatnya untuk dapat meraba dan menciumnya dengan hormat. Selama 2 ribu tahun itulah orang-orang Yahudi biasa berkata-kata : “Tahun depan di Yerusalem !” , dan harapan untuk kembali ke Sion akhirnya menjadi kenyataan. 

Gerbang-gerbang Kota

Yerusalem sekarang dihuni oleh kurang lebih 500 ribu orang dan terbagi atas Kota Lama dan Kota Baru. Di Kota Lama terdapat delapan pintu gerbang megah. Yang terbesar dan yang dianggap terindah ialah Gerbang Damaskus, di sebelah utara Kota Lama, karya Sulaiman pada tahun 1542. Ia mendirikannya di atas fundamen gerbang terdahulu, dari zaman Roma. Inilah gerbang yang paling ramai dilewati pada masa kini. Gerbang Baru, di sebelah utara, dibuka pada tahun 1887 sebagai sarana penghubung antara bagian Kristen dan lembaga-lembaga Katholik di luar tembok kota. Gerbang Jaffa membuka jalan ke arah pelabuhan Jaffa. Gerbang Sion, di sebelah selatan, menghubungkan bagian Armenia dengan Gunung Sion, di mana terletak Ruangan Perjamuan Terakhir. Gerbang Sampah terletak dekat Tembok Ratapan. Di bawahnya mengalir air buangan menuju Lembah Kidron. Gerbang Emas mengarah ke halaman Bait Suci dari sebelah timur; nama lainnya : Gerbang Belaskasih. Menurut tradisi yang dikenal sejak abad VII, Yesus bersama para rasulnya memasuki Yerusalem dengan meriah melalui gerbang ini. Peristiwa tersebut diperingatkan kini sebagai Minggu Palem. Di dekat gerbang ini (yang dahulunya bernama Pintu Indah) Rasul Petrus menyembuhkan seorang lumpuh sejak lahir (Kis 3). Gerbang Emas ditutup sejak masa pemerintahan Saladin (abad XII). Menurut tradisi Yahudi, Mesias kelak akan memasuki Yerusalem lewat gerbang ini. Hal ini didasarkan pada nubuat yang tercatat dalam kitab Yeremia. Bunyinya begini : “Kemudian laki-laki itu menuntun aku ke gerbang luar di sebelah timur lingkungan Rumah Tuhan. Gerbang itu tertutup. Tuhan berkata kepadaku, Gerbang ini harus tetap tertutup dan tak boleh dibuka. Tak seorang pun boleh memasukinya, sebab Aku, Tuhan Allah Israel, telah masuk ke RumahKu melalui gerbang ini. Jadi gerbang ini harus tetap tertutup. (Yer 44:1-3). Gerbang Singa ada di sebelah timur Kota Lama. Namanya mengacu kepada ukiran singa pada temboknya. Tetapi gerbang ini bernama lain pula, yaitu Gerbang St. Stefanus yang dibunuh di dekatnya. Gerbang terakhir, di sebelah utara, bernama Gerbang Herodes, karena secara salah dikaitkan dengan Istana Herodes Agung; namanya yang lain : Gerbang Bunga. Gerbang ini pernah ditutup sampai tahun 1875.

©2026 - PT Stella Kwarta Wisata