Korea 03/26

MENGENAL SANTO ANDREAS KIM TAEGON DARI KOREA

Andreas Kim Taegon adalah imam Katolik keturunan Korea pertama, yang terlahir dari tengah keluarga yang terpandang di masyarakat saat itu. Orang tua dari Kim Taegon berubah memeluk agama Katolik dan ayahnya kemudian dihukum mati karena menjadi Kristiani (suatu tindakan terlarang saat itu di Korea yang sangat kental Konfusianisme-nya). Kim Taegon belajar di sebuah seminari di Makau selama 6 tahun dan kemudian ditahbiskan menjadi seorang imam di Shanghai. Setelah itu Ia kembali ke Korea untuk berkhotbah dan menyebarkan Injil. Selama masa Dinasti Joseon, agama Kristeni ditindas keras dan banyak umat Kristiani yang disiksa dan dibunuh. Umat Katolik harus secara tertutup mempraktikkan iman mereka. Kim Taegon adalah salah satu dari beberapa ribu umat Kristiani yang dihukum mati pada masa ini. Pada tahun 1846, dalam usia 25 tahun, ia disiksa dan dihukum pancung. Kata-kata tera- khirnya adalah: “ini adalah waktu terakhir dari hidupku, dengarkan aku baik-baik: bila aku pernah berkomunikasi dengan orang asing, maka hal ini terjadi untuk agama dan Tuhan-ku. Adalah untuk-Nya aku ini mati. Kehidupan abadiku baru mulai. Jadilah orang Kristiani bila engkau berharap untuk bahagia setelah meninggal dunia, karena Tuhan memiliki hukuman abadi bagi mereka yang menolak untuk mengenal-Nya.”Pada tanggal 6 Mei 1984 Paus Yohanes Paulus II dalam perjalanannya ke Korea melakukan proses Kanonisasi Andreas Kim Taegon bersama dengan 102 Martir Korea lainnya, termasuk Paul Chong Hasang. Hari Raya ereka semua diperingati dalam kalendar gereja setiap tanggal 20 September.

Korea 02/26

MENGENAL SANTO ANDREAS KIM TAEGON DARI KOREA

Andreas Kim Taegon adalah imam Katolik keturunan Korea pertama, yang terlahir dari tengah keluarga yang terpandang di masyarakat saat itu. Orang tua dari Kim Taegon berubah memeluk agama Katolik dan ayahnya kemudian dihukum mati karena menjadi Kristiani (suatu tindakan terlarang saat itu di Korea yang sangat kental Konfusianisme-nya). Kim Taegon belajar di sebuah seminari di Makau selama 6 tahun dan kemudian ditahbiskan menjadi seorang imam di Shanghai. Setelah itu Ia kembali ke Korea untuk berkhotbah dan menyebarkan Injil. Selama masa Dinasti Joseon, agama Kristeni ditindas keras dan banyak umat Kristiani yang disiksa dan dibunuh. Umat Katolik harus secara tertutup mempraktikkan iman mereka. Kim Taegon adalah salah satu dari beberapa ribu umat Kristiani yang dihukum mati pada masa ini. Pada tahun 1846, dalam usia 25 tahun, ia disiksa dan dihukum pancung. Kata-kata tera- khirnya adalah: “ini adalah waktu terakhir dari hidupku, dengarkan aku baik-baik: bila aku pernah berkomunikasi dengan orang asing, maka hal ini terjadi untuk agama dan Tuhan-ku. Adalah untuk-Nya aku ini mati. Kehidupan abadiku baru mulai. Jadilah orang Kristiani bila engkau berharap untuk bahagia setelah meninggal dunia, karena Tuhan memiliki hukuman abadi bagi mereka yang menolak untuk mengenal-Nya.”Pada tanggal 6 Mei 1984 Paus Yohanes Paulus II dalam perjalanannya ke Korea melakukan proses Kanonisasi Andreas Kim Taegon bersama dengan 102 Martir Korea lainnya, termasuk Paul Chong Hasang. Hari Raya ereka semua diperingati dalam kalendar gereja setiap tanggal 20 September.

Japan

26 Martir Jepang

26 Martir Nagasaki adalah 26 martir yang tewas pada tahun 1597 dan dikanonisasi pada tahun 1862 oleh Paus Pius IX. Mereka terdiri dari 5 orang dari Spanyol, 1 orang Portugis dari India yang semuanya adalah mara Misionaris Fransiskan, 3 orang Yesuit dari Jepang dan 17 orang anggota Ordo Ketiga Santo Fransiskus. Pada masa pemerintahan Toyotomi Hideyoshi, umat Katolik mengalami penganiayaan yang salah satu puncaknya terjadi di tanggal 5 Februari 1597 dimana duapuluh enam orang martir tersebut dihukum mati di Bukit Nishizaka luar kota Nagasaki karena mempertahankan iman mereka kepada Kristus. Dengan diikat, mereka berjalan berbaris dan menjadi tontonan bagi masyarakat yang menyaksikannya. Sepanjang perjalanan, para saksi-saksi Kristus ini terus memuji Tuhan. Sebelum disalibkan mereka mengalami penyiksaan yang sangat hebat. Dari atas salib salah satu dari antara mereka yaitu Santo Paulus Miki terus berkotbah dengan gagah berani untuk memberi semangat bagi umat kristiani untuk tetap setia pada iman mereka.

Selama lebih dari dua abad (abad ke-17 hingga abad ke-19) akibat larangan Agama Kristen oleh pemerintah Jepang orang-orang Kristen kemudian dikenal sebagai Kakure Kirishitan yang secara harfiah berarti “Orang Kristen Tersembunyi.”

Vietnam Pilgrimage

BUNDA MARIA DARI LA VANG La Vang adalah pusat dan tempat ziarah nasional Vietnam, terletak +/- 60 km dari Kota Hue yang sebelumnya adalah ibukota Vietnam. Namanya diambil dari sejenis tanaman yang banyak tumbuh di daerah ini. Selama masa pengejaran besar dari tahun 1798- 1801 banyak orang Kristen yang mengungsi di pedalaman hutan yang terletak di pinggiran Quang Tri, sebuah desa di daerah Vietnam bagian tengah. Di sana mereka mengalami kelaparan dan sakit penyakit dan sudah menyiapkan diri mereka untuk menjadi martir. Suatu hari ketika kelompok tersebut sedang berdoa, seorang wanita yang dikelilingi banyak cahaya menampakan diri kepada mereka. Ia mengenalkan dirinya sebagai Bunda Tuhan, menguatkan, menghibur mereka serta memberikan kepada mereka sebuah tanda khusus dari kasih dan cintanya kepada mereka. Ia menasehati orang-orang untuk menggunakan daun dari tanaman tersebut untuk menyembuhkan penyakit penyakit mereka, dan menjanjikan untuk menerima doa-doa mereka dengan kebaikan hati seorang Ibu. Semua orang yang datang dan berkumpul di tempat ini untuk berdoa akan didengar dan permohonannya akan dikabulkan. Ibu Maria menampakan dirinya di dalam beberapa kesempatan lainnya di tempat yang sama. Setelah masa pengejaran berakhir tahun 1802, orang-orang Kristen meninggalkan hutan persembunyian dan kembali ke desa-desa mereka. Walaupun demikian kisah penampakan dan pesan yang disampaikan tetap berlanjut. Tahun 1820 sebuah kapel dibangun di tempat penampakan. Dari tahun 1820- 1885 terjadi kembali masa pengejaran yang berikutnya yang membuat populasi orang-orang Kristen Vietnam berkurang. Lebih dari 100.000 orang Kristen Vietnam meninggal sebagai martir. Tahun 1885 kapel yang dibangun untuk menghormati Bunda Kita dari LaVang dihancurkan oleh orang-orang fanatik. Sebuah kapel baru dibangun tahun 1886 dan dikonsekrasi tahun 1901. Tidak lama kemudian tempat ini tidak mampu lagi menampung banyaknya peziarah dan tahun 1923 sebuah gereja baru yang lebih besar didirikan. Gereja ini dikonsekrasi pada 22 Agustus 1928 di hadapan 20.000 peziarah yang datang. Setiap tiga tahun sekali sebuah acara peziarahan nasional diadakan untuk seluruh negeri yang tetap mempunyai arti yang khusus bahkan setelah terpisahnya Vietnam Selatan dan Utara. Tahun 1959 La Vang secara resmi dideklarasikan sebagai tempat ziarah nasional, menandai 300 tahun kehadiran Gereja Katolik di Vietnam. Gereja di La Vang mendapatkan gelar sebagai Basilica Minor pada tahun 1961. Bapa Suci (alm.) Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa “Di dalam mengunjungi tempat ziarah Bunda Kita dari La Vang, yang sangat dicintai oleh orang-orang beriman Vietnam, peziarah yang datang menyerahkan kepadanya kebahagiaan, penderitaan dan harapan mereka. Dengan cara ini mereka memanggil Tuhan dan menjadi perantara untuk keluarga dan bangsa mereka, meminta Tuhan untuk memberikan di dalam hati semua orang rasa damai, persaudaraan dan solidaritas, sehingga setiap orang Vietnam akan menjadi lebih bersatu setiap harinya di dalam pembangunan dunia yang berdasarkan nilai moral dan spiritual yang penting, dimana setiap orang akan dihargai karena martabatnya sebagai anak Tuhan, dan dapat berjalan dalam kebebasan sebagai anak menuju kepada Bapa di Surga, yang penuh dengan belas kasih. ”

Explore Bhutan

Bhutan adalah sebuah negara kecil dengan keindahan alamnya yang terletak di pegunungan Himalaya, sering kali dikenal dengan julukan “Kerajaan Langit” atau “Negeri Gembira”. Negara ini memiliki sejarah dan budaya yang kaya, serta keunikan dalam pendekatan terhadap rakyatnya dalam hal kebahagiaan nasional. Hal yang paling menarik tentang Bhutan adalah konsep Gross National Happiness (GNH) atau Kebahagiaan Nasional Bruto. Pemerintah Bhutan percaya bahwa kesejahteraan masyarakat tidak hanya diukur dari segi ekonomi, tetapi juga dari faktor-faktor seperti kesehatan, pendidikan, kelestarian lingkungan, dan kebahagiaan spiritual. Ini Membuat Bhutan menjadi satu-satunya negara di dunia yang mengukur kebahagiaan nasional secara resmi. Dengan pendekatan unik terhadap kebahagiaan nasional, keindahan alam yang memukau, dan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan, Bhutan tetap menjadi negara yang menarik dan inspiratif bagi banyak orang di seluruh dunia.

Semana Santa

PROSESI SEMANA SANTA

Prosesi Jumat Agung atau yang lebih dikenal dengan Semana Santa di Pulau Flores adalah momen spiritual yang selalu di lakukan oleh masyarakat Katolik di Larantuka, Flores Timur. Prosesi ini pertama kali dilakukan oleh Bangsa Portugis pada masa pendudukan mereka di Pulau Flores. Perjalanan ziarah ini diperuntukan bagi mereka yang ingin merayakan Jumat Agung dengan para peziarah lainnya dari berbagai daerah baik dari Flores sendiri maupun dari berbagai penjuru di Indon

Korean Tour & Pilgrimage

MENGENAL SANTO ANDREAS KIM TAEGON DARI KOREA

Andreas Kim Taegon adalah imam Katolik keturunan Korea pertama, yang terlahir dari tengah keluarga yang terpandang di masyarakat saat itu. Orang tua dari Kim Taegon berubah memeluk agama Katolik dan ayahnya kemudian dihukum mati karena menjadi Kristiani (suatu tindakan terlarang saat itu di Korea yang sangat kental Konfusianisme-nya). Kim Taegon belajar di sebuah seminari di Makau selama 6 tahun dan kemudian ditahbiskan menjadi seorang imam di Shanghai. Setelah itu Ia kembali ke Korea untuk berkhotbah dan menyebarkan Injil. Selama masa Dinasti Joseon, agama Kristeni ditindas keras dan banyak umat Kristiani yang disiksa dan dibunuh. Umat Katolik harus secara tertutup mempraktikkan iman mereka. Kim Taegon adalah salah satu dari beberapa ribu umat Kristiani yang dihukum mati pada masa ini. Pada tahun 1846, dalam usia 25 tahun, ia disiksa dan dihukum pancung. Kata-kata tera- khirnya adalah: “ini adalah waktu terakhir dari hidupku, dengarkan aku baik-baik: bila aku pernah berkomunikasi dengan orang asing, maka hal ini terjadi untuk agama dan Tuhan-ku. Adalah untuk-Nya aku ini mati. Kehidupan abadiku baru mulai. Jadilah orang Kristiani bila engkau berharap untuk bahagia setelah meninggal dunia, karena Tuhan memiliki hukuman abadi bagi mereka yang menolak untuk mengenal-Nya.”Pada tanggal 6 Mei 1984 Paus Yohanes Paulus II dalam perjalanannya ke Korea melakukan proses Kanonisasi Andreas Kim Taegon bersama dengan 102 Martir Korea lainnya, termasuk Paul Chong Hasang. Hari Raya ereka semua diperingati dalam kalendar gereja setiap tanggal 20 September.

Pilgrimage to India

Eksposisi sepuluh tahunan jenazah Santo Fransiskus Xaverius di Goa, India adalah tradisi religius yang menarik perhatian puluhan ribu umat Katolik dari seluruh dunia. Santo Fransiskus Xaverius (1506-1552) adalah seorang misionaris Katolik Spanyol dan salah satu pendiri Ordo Yesuit. Ia terkenal karena karyanya dalam menyebarkan agama Katolik di Asia, termasuk India, Jepang, dan Kepulauan Maluku. Fransiskus Xaverius meninggal di Pulau Sancian di dekat pantai Tiongkok pada tahun 1552. Tubuhnya kemudian dipindahkan ke Goa, India, di mana ia dimakamkan di Basilika Bom Jesus. Salah satu keajaiban yang dikaitkan dengan Santo Fransiskus Xaverius adalah kondisi jenazahnya yang masih utuh setelah berabad-abad. Setiap sepuluh tahun sekali, jenazah Santo Fransiskus Xaverius dikeluarkan dari makamnya untuk diperlihatkan kepada umum. Tradisi ini dimulai sejak abad ke-17. Tubuh Santo Fransiskus Xaverius ditempatkan dalam peti kaca agar para peziarah dapat melihatnya.

©2026 - PT Stella Kwarta Wisata