Mari bergabung di dalam perjalanan ziarah selama 12 hari ke salah satu negeri tertua di dunia yang menyimpan warisan Kekristenan awal secara autentik dan mendalam, Ethiopia. Selama 12 hari, Anda akan menyusuri kota-kota suci seperti Lalibela, tempat berdirinya gereja-gereja batu yang dipahat tangan sebagai simbol kasih abadi kepada Kristus, Axum, kota kuno yang dipercaya menyimpan Tabut Perjanjian serta Gondar dengan gereja berlukisan malaikat dan sejarah kekaisaran Kristen yang kaya. Kita juga akan diajak untuk merasakan perjumpaan iman melalui lanskap yang megah, Perayaan Suci Timket (Epifani Ethiopia) yang luar biasa serta juga mengenal budaya lokal yang hangat di dalam menyambut para peziarah. Inilah kesempatan langka untuk menapaki jejak para kudus, merenungkan warisan gereja perdana, dan mengalami keajaiban iman yang hidup di jantung Afrika.
TEMPAT SANGAT TERBATAS ! Jangan sampai ketinggalan untuk bergabung di dalam perjalanan ziarah ONCE IN A LIFETIME ini.Andreas Kim Taegon adalah imam Katolik keturunan Korea pertama, yang terlahir dari tengah keluarga yang terpandang di masyarakat saat itu. Orang tua dari Kim Taegon berubah memeluk agama Katolik dan ayahnya kemudian dihukum mati karena menjadi Kristiani (suatu tindakan terlarang saat itu di Korea yang sangat kental Konfusianisme-nya). Kim Taegon belajar di sebuah seminari di Makau selama 6 tahun dan kemudian ditahbiskan menjadi seorang imam di Shanghai. Setelah itu Ia kembali ke Korea untuk berkhotbah dan menyebarkan Injil. Selama masa Dinasti Joseon, agama Kristeni ditindas keras dan banyak umat Kristiani yang disiksa dan dibunuh. Umat Katolik harus secara tertutup mempraktikkan iman mereka. Kim Taegon adalah salah satu dari beberapa ribu umat Kristiani yang dihukum mati pada masa ini. Pada tahun 1846, dalam usia 25 tahun, ia disiksa dan dihukum pancung. Kata-kata tera- khirnya adalah: “ini adalah waktu terakhir dari hidupku, dengarkan aku baik-baik: bila aku pernah berkomunikasi dengan orang asing, maka hal ini terjadi untuk agama dan Tuhan-ku. Adalah untuk-Nya aku ini mati. Kehidupan abadiku baru mulai. Jadilah orang Kristiani bila engkau berharap untuk bahagia setelah meninggal dunia, karena Tuhan memiliki hukuman abadi bagi mereka yang menolak untuk mengenal-Nya.”Pada tanggal 6 Mei 1984 Paus Yohanes Paulus II dalam perjalanannya ke Korea melakukan proses Kanonisasi Andreas Kim Taegon bersama dengan 102 Martir Korea lainnya, termasuk Paul Chong Hasang. Hari Raya ereka semua diperingati dalam kalendar gereja setiap tanggal 20 September.
Andreas Kim Taegon adalah imam Katolik keturunan Korea pertama, yang terlahir dari tengah keluarga yang terpandang di masyarakat saat itu. Orang tua dari Kim Taegon berubah memeluk agama Katolik dan ayahnya kemudian dihukum mati karena menjadi Kristiani (suatu tindakan terlarang saat itu di Korea yang sangat kental Konfusianisme-nya). Kim Taegon belajar di sebuah seminari di Makau selama 6 tahun dan kemudian ditahbiskan menjadi seorang imam di Shanghai. Setelah itu Ia kembali ke Korea untuk berkhotbah dan menyebarkan Injil. Selama masa Dinasti Joseon, agama Kristeni ditindas keras dan banyak umat Kristiani yang disiksa dan dibunuh. Umat Katolik harus secara tertutup mempraktikkan iman mereka. Kim Taegon adalah salah satu dari beberapa ribu umat Kristiani yang dihukum mati pada masa ini. Pada tahun 1846, dalam usia 25 tahun, ia disiksa dan dihukum pancung. Kata-kata tera- khirnya adalah: “ini adalah waktu terakhir dari hidupku, dengarkan aku baik-baik: bila aku pernah berkomunikasi dengan orang asing, maka hal ini terjadi untuk agama dan Tuhan-ku. Adalah untuk-Nya aku ini mati. Kehidupan abadiku baru mulai. Jadilah orang Kristiani bila engkau berharap untuk bahagia setelah meninggal dunia, karena Tuhan memiliki hukuman abadi bagi mereka yang menolak untuk mengenal-Nya.”Pada tanggal 6 Mei 1984 Paus Yohanes Paulus II dalam perjalanannya ke Korea melakukan proses Kanonisasi Andreas Kim Taegon bersama dengan 102 Martir Korea lainnya, termasuk Paul Chong Hasang. Hari Raya ereka semua diperingati dalam kalendar gereja setiap tanggal 20 September.
Malta adalah sebuah negara pulau yang berada di Laut Tengah. Pulau ini mempunyai peranan yang penting di dalam jalur pelayaran kapal di Laut Tengah. Paulus kandas pada perjalanannya ke Roma di Pulau Malta. Setelah kami tiba dengan selamat di pantai, barulah kami tahu, bahwa daratan itu adalah Pulau Malta. Penduduk pulau itu sangat ramah terhadap kami. Mereka menyalakan api besar dan mengajak kami semua ke situ karena telah mulai hujan dan hawanya dingin (Kis. 28:1-2). Di pulau ini Paulus menyembuhkan ayah Publius yang sakit demam dan disentri dan orang-orang sakit lainnya (Kis. 28:8-9). Tiga bulan lamanya Paulus berada di Malta sebelum kemudian berlayar menuju Roma.